Mental Sehat di Tengah Kesibukan: Akar Burnout & Solusi Praktis

RB NEWS Semua orang pada dasarnya membutuhkan waktu untuk beristirahat dari segala kesibukan dan kegaduhan aktivitas. Dalam zaman yang canggih saat ini, terdapat suatu situasi yang kian sering dibicarakan, yakni burnout atau kelelahan akibat pekerjaan.
Kata ini pertama kali diungkapkan oleh seorang ahli psikologi yang bernama Herbert Freudenberger pada tahun 1974.
Mengapa situasi ini perlu dikemukakan? Karena pengaruhnya begitu besar, mencakup kesejahteraan pribadi serta efektivitas sebuah lembaga.
Berdasarkan data di RSO.go.id, sindrom burnout dapat didefinisikan sebagai situasi kelelahan ekstrem yang tidak hanya dirasakan secara tubuh, namun juga emosional serta pikiran.
Kondisi ini muncul akibat keterlibatan jangka panjang dalam situasi yang menuntut emosi secara intens.
Secara umum, kelelahan mental sering dirasakan oleh karyawan di berbagai bidang, mulai dari tenaga medis sampai pegawai perkantoran yang setiap harinya menghadapi beban tugas yang terus-menerus. Tuntutan kerja yang tidak pernah berakhir menjadi penyebab utama kondisi ini.
Di samping itu, hal-hal seperti tekanan pekerjaan yang besar, durasi kerja yang lama, serta minimnya dukungan psikologis sering kali menjadi penyebab utamanya.
Sangat menarik, sebagaimana dilansir dari S1PBing.FBS.Unesa.ac.id, keadaan burnout bukan hanya terjadi pada para pekerja dewasa. Para siswa juga dapat merasakan hal tersebut, bahkan akibatnya mungkin menyebabkan berkurangnya dorongan dan antusiasme dalam belajar.
Burnout adalah situasi yang tidak boleh diabaikan begitu saja. Keadaan ini perlu diperlakukan secara serius mengingat dampaknya dapat sangat berpengaruh terhadap kemampuan kerja serta kesehatan pikiran individu tersebut.
Karena itu, sangatlah penting bagi Anda untuk mengetahui berbagai faktor pemicu kelelahan mental, serta metode yang dapat digunakan secara efisien guna menghadapi kondisi tersebut. Dengan demikian, Anda mampu menjaga keseimbangan dalam hidup dan tetap berkarya dengan baik.
- Penyebab Burnout
1. Kekurangan dukungan dari pihak manajemen
Minimnya komunikasi dan dukungan emosional dari atasan dapat membuat pegawai merasa tidak dihargai atau terasing. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kelelahan emosional yang dialami oleh karyawan.
2. Lingkungan Kerja Yang Tidak Mendukung
Konflik dengan teman satu tim, minimnya apresiasi, serta lingkungan kerja yang buruk bisa meningkatkan stres dan berdampak pada kelelahan emosional. Suasana yang tidak menyokong juga dapat merusak kesehatan mental karyawan.
3. Ketidakjelasan Peran
Jika karyawan tidak memahami tugasnya secara jelas atau mendapatkan petunjuk yang bertolak belakang, mereka bisa merasa kesal dan terbebani. Kekacauan semacam ini dapat menimbulkan ketidaktahuan serta tekanan emosional dalam waktu lama.
4. Kewajiban Kerja yang Terlalu Banyak
Karyawan yang selalu menghadapi tekanan pekerjaan berat dan memiliki waktu jeda yang sedikit cenderung mudah mengalami kelelahan emosional. Tanggungan kerja yang tidak sebanding sering kali menyebabkan rasa stres yang menetap, yang bisa merusak kondisi psikologis seseorang.
5. Ketidakseimbangan antara Aktivitas Kerja dan Kehidupan Pribadi (Keseimbangan Kerja dan Hidup)
Bila seseorang menghadapi tekanan pekerjaan dan harapan yang besar, biasanya mereka memprioritaskan kerja daripada waktu istirahat, khususnya durasi tidur. Padahal, kebiasaan beristirahat yang mencukupi dan rutin sangat vital dalam menjaga kondisi kesehatan jasmani maupun rohani serta menghindari rasa lelah berlebihan.
Karena bahkan waktu beristirahat pun susah diperoleh, dia semakin kewalahan dalam menyisihkan waktu untuk rileks atau berkumpul dengan anggota keluarga serta teman-temannya. Terbatasnya kegiatan sosial ini bisa membuat seseorang merasa sendiri, sehingga secara tak langsung meningkatkan kadar tekanan batin yang dirasakan. Keadaan ini dapat menjadi lebih buruk lagi apabila pribadi tersebut tidak mendapatkan dukungan baik dari lingkungan sekitarnya, misalnya dari keluarga maupun sahabat dekat.
6. Bobot Studi yang Menguras Tenaga
Siswa sering menghadapi jadwal belajar atau kuliah yang sangat sibuk, banyaknya pekerjaan rumah, serta tekanan dari ujian yang semakin dekat. Gabungan beberapa hal tersebut bisa menyebabkan rasa cemas dan tersandung dalam lingkaran kecemasan yang terus-menerus. Kelelahan karena beban studi yang besar ini berpotensi memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis dan kenyamanan hidup mereka.
- Metode yang Efisien dalam Menghadapi Kelelahan Mental
1. Sisihkan Waktu Untuk Perawatan Diri (Self-Care)
Mencintai diri sendiri bukanlah perbuatan egositis, tetapi merupakan wujud perhatian terhadap kondisi jiwa. Kegiatan sehari-hari seperti jalan-jalan ringan, mendengar lagu kesukaan, menonton film yang disenangi, atau mengerjakan hobi bisa menciptakan rasa tenang. Terlibat dalam aktivitas yang membuat senang berguna untuk mengurangi tekanan pikiran serta menjaga agar tidak merasakan lelah secara emosional.
2. Tetapkan Batasan yang Jelas Antara Aktivitas Kerja dan Kehidupan Pribadi
Membatasi jarak antara tugas profesional dengan kehidupan pribadi merupakan hal yang penting dalam mempertahankan keseimbangan hidup. Contohnya adalah menghindari penggunaan komputer setelah masa kerja selesai atau mematikan notifikasi kelompok kerja saat libur hari Sabtu-Minggu. Menjaga komitmen pada pembatasan tersebut dapat memberi Anda kesempatan untuk menyibukkan diri secara bermakna di luar dunia kerja serta mencegah penumpukan tekanan emosional.
3. Jangan Enggan Menghubungi Ahli Profesional
Jika gejala burnout mulai menyebabkan gangguan seperti hilangnya semangat, perubahan emosi yang signifikan, atau kelelahan terus-menerus, lebih baik secepatnya berkonsultasi dengan ahli profesional. Seorang psikolog dapat memberikan evaluasi dan menilai apakah Anda butuh pengobatan tambahan dari seorang psikiater.
4. Berikan Jumlah Waktu Tidur Yang Memadai Pada Malam Hari
Kualitas istirahat memiliki pengaruh besar pada kondisi kejiwaan seseorang. Mereka yang hanya tidur kurang dari enam jam tiap malam cenderung lebih rentan mengalami kelelahan emosional. Karena itu, meskipun kesibukan sangat padat, pastikan untuk menyediakan waktu tidur paling sedikit enam jam setiap hari. Bila mungkin, hindari pekerjaan tambahan di luar jam kerja guna memberi ruang bagi badan dan pikiran untuk pulih dengan baik.
5. Lakukan Latihan Meditasi dan Yoga Untuk Menjaga Kestabilan Perasaan
Yoga dan meditasi diakui memiliki manfaat besar untuk meredakan kecemasan dan meningkatkan kesadaran pribadi (mindfulness). Jika dilakukan secara teratur, dua praktik tersebut membantu Anda lebih mudah mengidentifikasi dan menerima perasaan dengan jujur, sambil memperkuat hubungan antara tubuh dan pikiran. Gabungan latihan fisik bersama teknik pernapasan membuat yoga dan meditasi menjadi cara penyembuhan yang komprehensif.
6. Luangkan Jeda Singkat Di Tengah Pekerjaan
Sementara aktivitas yang melelahkan mengisi hari Anda, tidak boleh melupakan pentingnya istirahat sesekali. Cobalah memberi peringatan setiap satu jam guna melakukan peregangan ringan atau sekadar berjalan-jalan di area tempat kerja. Saat tiba waktunya makan siang, manfaatkan kesempatan ini dengan tidur singkat selama 15 hingga 20 menit supaya tubuh menjadi lebih segar ketika kembali fokus pada pekerjaan.
7. Luangkan Waktu untuk Berbicara dengan Orang yang Dekat dengan Kita
Menceritakan pengalaman kepada seseorang yang bisa diandalkan, seperti kekasih, anggota keluarga, atau teman dekat, merupakan metode efektif untuk meringankan tekanan pikiran. Ketika Anda membagikan apa yang ada di hati, emosi buruk secara bertahap akan terlepas, membuat perasaan jadi lebih ringan dan tenang. Tak perlu menahan segala sesuatunya sendirian; berbicara dapat menjadi bentuk penyembuhan batin yang bermanfaat.
Gabung dalam percakapan