Fakta RI Akan Nego Utang ke China

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Menghadapi Tantangan Utang


Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) atau Whoosh masih menjadi sorotan pemerintah dalam upaya menyelesaikan beban utang yang terbentuk selama pelaksanaannya. Total biaya proyek ini mencapai USD 7,27 miliar atau sekitar Rp 120 triliun (kurs Rp 16.570 per dolar AS), termasuk pembengkakan biaya (cost overrun) sebesar USD 1,2 miliar atau sekitar Rp 19,8 triliun.

Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyatakan bahwa saat ini PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI menanggung utang sebesar Rp 6,9 triliun kepada China Development Bank (CDB). AHY menegaskan bahwa KAI harus tetap sehat secara finansial di tengah polemik utang KCJB. Menurutnya, masalah utang tidak boleh mengganggu kinerja dan tanggung jawab utama BUMN tersebut.

“Intinya KAI juga harus sehat karena KAI tidak hanya mengurusi kereta cepat. KAI bertanggung jawab pada sektor perkeretaapian di seluruh Indonesia. Ribuan kilometer rel harus bisa berfungsi dengan baik dan penumpang harus tetap nyaman menggunakan kereta api,” ujar AHY di kantornya, Jakarta, Selasa (21/10).

Tim Negosiasi Utang Akan Dikirim ke China


Chief Operation Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengatakan bahwa untuk membahas restrukturisasi utang KCJB, Danantara akan mengirimkan tim khusus ke China. Ia menjelaskan bahwa pembahasan akan melibatkan jangka waktu pinjaman, suku bunga, serta beberapa mata uang yang akan didiskusikan.

Dony memastikan bahwa tim yang terdiri dari perwakilan Danantara dan pemerintah akan berkoordinasi dengan AHY dalam proses negosiasi nanti. Sementara itu, jadwal keberangkatan tim tersebut sudah ditentukan. Dia optimistis bahwa pembahasan dengan pihak China akan menghasilkan kesepakatan yang menguntungkan bagi Indonesia.

Menteri Keuangan Tidak Ikut dalam Negosiasi Utang


Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi positif rencana negosiasi utang tersebut. Ia menilai langkah restrukturisasi antara Indonesia dan China merupakan sinyal baik, terlebih karena pembiayaannya tidak melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

“Bagus. Saya enggak ikut kan? Top,” ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Kamis (23/10). Salah satu opsi yang dikabarkan sedang dipertimbangkan adalah perpanjangan tenor pelunasan hingga 60 tahun. Meski demikian, Purbaya mengatakan negosiasi sebaiknya dijalankan secara bisnis antar pihak yang terlibat langsung.

“Paling menyaksikan. Kalau mereka sudah putus kan udah bagus. Top. Sebisa mungkin nggak ikut. Biar aja mereka selesaikan business to business. Jadi top,” katanya menegaskan.

Tanggapan China atas Rencana Restrukturisasi Utang


Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, mengatakan pemerintah Indonesia sedang merundingkan restrukturisasi utang proyek Whoosh. Dia menilai restrukturisasi merupakan bagian dari upaya bersama untuk memastikan keberlanjutan proyek dalam jangka panjang.

Guo menegaskan pentingnya menilai proyek besar seperti KCJB tidak semata dari angka-angka keuangan, melainkan juga dampak sosial dan konektivitas regional yang dihasilkannya. “China siap bekerja sama dengan Indonesia untuk terus memfasilitasi pengoperasian kereta api cepat Jakarta-Bandung yang berkualitas tinggi,” tutur Guo dalam konferensi pers di Beijing, Kamis (23/10).

Melalui kerja sama tersebut, Guo berharap proyek KCJB dapat terus berperan besar dalam memperkuat hubungan kedua negara serta meningkatkan pembangunan ekonomi dan sosial di kawasan. KCJB, lanjut Guo, merupakan proyek kerja sama strategis kedua negara yang berjalan dengan baik sejak diresmikan dua tahun lalu, dengan operasional aman, lancar, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar jalur kereta.

“Kereta api ini telah melayani lebih dari 11,71 juta penumpang, dengan arus penumpang yang terus meningkat, dan manfaat ekonomi serta sosialnya terus dirasakan, menciptakan lapangan kerja yang luas bagi masyarakat setempat dan mendorong pertumbuhan ekonomi di sepanjang jalur kereta api,” ujar Guo.

Guo menyebut kerja sama erat antara otoritas dan perusahaan dari kedua negara menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas operasional proyek. Selain itu, dia menambahkan China akan terus berkolaborasi dengan Indonesia untuk memastikan operasional kereta cepat tersebut memberikan hasil optimal bagi rakyat.

“Proyek ini akan memainkan peran yang lebih besar dalam mendorong pembangunan ekonomi dan sosial Indonesia serta meningkatkan konektivitas di kawasan,” tutup Guo.