SKD vs CKD: Mengungkap Perbedaan Utama dalam Produksi Mobil
JAKARTA, RB NEWS – Secara garis besar, terdapat dua metode produksi untuk kendaraan beroda empat seperti mobil, yakni dengan sistem Completely Built Up (CBU) dan Completely Knocked Down (CKD).
Akan tetapi, terdapat pula istilah Semi Knocked Down (SKD), atau dapat disebut sebagai jenis ketiga.
Ide-ide utamanya sama seperti CKD, namun lebih singkat atau simpel.
Maka, apakah yang dimaksud dengan SKD pada tahap produksi mobil?
Jongkie Sugiarto, wakil komisaris utama dari Handal Indonesia Motor (HIM), menyatakan dengan singkat bahwa proses perakitannya untuk SKD memiliki langkah-langkah yang lebih sedikit dibanding CKD. Ini terjadi karena bagian-bagian yang dikirim ke pabrik telah berada dalam kondisi hampir siap pakai.
"Meskipun badannya telah disolder dan dicat, bagian lainnya diselesaikan di tempat ini," ungkap Jongkie saat berada di Jakarta, beberapa minggu yang lalu.
Jongkie mengambil contoh, bila di dalam produksi CKD semua komponen kendaraan dibuat dari awal hingga akhir, artinya dari A hingga Z, sedangkan untuk SKD, tahap pembuatan hanya meliputi sebagian besar langkah-langkah tersebut, yakni mulai dari N sampai Z.
Sejumlah tahapan telah dikerjakan di negeri aslinya.
"Kami sepakat mulai dari A hingga M disebutkan sebagai M, bisa diproduksi di tempat pembuatnya. Sedangkan N hingga Z dilakukan di sini. Sebab bagian dari A hingga M barusan adalah yang memiliki investasi terbesar," jelas Jongkie.
"Seperti mengecat, mengelas, bagaimana menyebutnya, ditekan disini dan sebagainya. Semua ini sangat mahal," katanya.
Singkatnya, dalam skema CKD, semua komponen kendaraan, termasuk yang lebih kecil seperti baut dan kabel, dikirim dalam bentuk terpisah untuk dirakit di negara tujuan.
Pada sistem SKD, sebagian besar komponennya berupa barang setengah jadi, menjadikan tahap perakitan menjadi lebih mudah daripada pada kasus CKD.
Manfaat primer dari SKD ialah penghematan biaya.
Mengirim komponen secara parsial lebih hemat biaya daripada mengirimkan kendaraan lengkap.
Di samping itu, sejumlah negara menerapkan aturan yang mendukung pembuatan kendaraan lokal, misalnya dengan memberikan kemudahan pajak atau bea masukan lebih rendah pada mobil-mobil yang diproduksi di dalam negeri.
Gabung dalam percakapan