Restorasi Anggrek: Mempertaruhkan Ulang Kehidupan di Sekitar Gunung Merapi untuk Pelestarian
RB NEWS - Joko Susanto tetap mengingat dengan jelas bahwa dahulu hutan di sekitar Gunung Merapi dipenuhi oleh pepohonan rimbun dan banyak tumbuhan anggrek yang melekat pada batang-tree tersebut. Anggrek yang terdapat dalam hutan ini berbeda dari jenis-jenis anggrek yang ada di pasaran atau toko-toko, dimana biasanya memiliki kelopak yang besar serta warna yang mencolok. Meskipun ukuran bunga mereka relatif lebih kecil, namun penampilannya sangat memukau dan unik.
Tetapi pada suatu ketika, pepohonan tersebut ditebang, lahan digali dengan cangkul, dan kemudian ditumbuhkan beragam jenis sayuran, rumput untuk pakan hewan, serta tanaman tembakau. Kehidupan hutan yang padat itu berganti menjadi lereng tanah yang kosong, dan mulai timbul masalah longsoran tanah, hal ini sama sekali belum pernah diduga sebelumnya.
"Saat masih anak-anak, setiap kali kita bermain ke hutan, hanya dengan berjalan beberapa meter saja sudah bisa melihat bunga anggrek. Namun sejak hutan itu dianggap milik umum, banyak dari mereka yang membersihkan area tersebut untuk dibuat menjadi lahan pertanian tanaman sayuran dan tembakau. Seiring penggundulan hutan akibat tebing pohon-pohon besar, bunga anggrek yang tumbuh di atas pepohonan juga turut musnah," cerita Joko sambil terlihat mengenang masa lalu.
Pada periode 1980 sampai 1990, cukup banyak individu dari luar area memetik bunga anggrek di dalam wilayah hutan gunung berapi Merapi. Pada masa tersebut, masyarakat setempat belum menyadar bahwa tanaman yang mereka petiki bisa bernilai jual tinggi. Barulah ketika informasi tentang nilai ekonomi anggrek tersebar luas, beberapa penduduk mulai turut serta melakukan pemanenan dan ada juga yang mencoba membudidayakannya di pekarangan rumah. Dari lebih dari tujuh puluh jenis spesies anggrek asli hutan Merapi, jumlah populasi perlahan-lahan merosot akibat aktivitas ini.
Akan tetapi, situasi berubah saat tahun 2004 Presiden Megawati mengeluarkan pengumuman resmi yang menjadikan area tempat main Joko sewaktu kecil sebagai Taman Nasional Gunung Merapi. Sebagai taman nasional, akses publik terbatas dan memerlukan izin untuk masuk, sehingga wilayah tersebut secara bertahap pulih menjadi hutan lagi.
Gerbang Taman Nasional Gunung Merapi berada diujung jalanan Dukuh Gumuk, Desa Mriyan, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Boyolali. Terdapat sebuah bangunan besar milik Pak Joko tepat didepanya sehingga memudahkan melihat lokasi tersebut dengan mudah. Menuju tempat ini dapat dilakukan dalam waktu kurang lebih lima menitan jika anda pergi berjalan kaki sejauh aspal naik. Gapuranya sangat minimalis, dibuat menggunakan baja bekas. Ada juga plang rambu sudah lapuk oleh zaman disamping jalan serta setelah melewati pintunya akan muncul jalan batu beralih dari permukaan beton.
Pada awalnya, transformasi hutan menjadi taman nasional mendapat penolakan dari masyarakat yang telah lama berladang di area tersebut. Akan tetapi seiring waktu, mereka mulai mengerti betapa vitalnya lokasi ini untuk konservasi serta sebagai zona infiltrasi air. Menanam pohon lagi di tebing Gunung Merapi tidak hanya dilihat sebagai cara memelihara suplai air, tapi juga sebagai langkah preventif terhadap ancaman longsoran tanah.
Walaupun begitu, pada masa tersebut penanaman pohon belum dilaksanakan secara luas. Hanya setelah letusan besar terjadi di tahun 2010, Gunung Merapi mulai memperoleh sorotan lagi, serta adanya dana bergulir dari Jepang yang melibatkan pemuda lokal untuk merestorasi hutan dengan tanaman asli Merapi. Tanaman-tanaman ini mencakup berbagai jenis seperti Puspa, Asam Londo, Waru Gunung, Tutup, Suren, Nogosari, Dadap, dan sebagainya.
"Mulai dari sana, penduduk di Dukuh Gumuk memulai penanaman pohon lokal di lokasi yang kala itu telah ditetapkan sebagai Taman Nasional," jelas Joko, Rabu (19/2/2025).
Mengembalikan anggrek ke Merapi
Saat pohon-pohon mulai bertumbuh dan hutan menjadi lebih hijau, terdapat sesuatu yang terasa belum lengkap: Joko dan kawan-kawannya tak lagi sering melihat anggrek seperti dahulu. "Kita pernah mendaki ke puncak Merapi tetapi tidak menemui satupun anggrek. Sebelumnya, hanya dengan berjalan beberapa meter kita sudah bisa menemukan bermacam-macam spesies," katanya.
Sejatinya, Joko tidak begitu khawatir tentang masalah itu. Tetapi pada tahun 2017, Lembaga Pengembangan Teknologi Pedesaan (LPTP) bersama dengan program CSR Aqua mendorong penduduk setempat agar melaksanakan kegiatan pelestarian lingkungan di area resapan air, mencakup wilayah Desa Mriyan serta sekitarannya.
Perlu dicatat bahwa Kecamatan Tamansari merupakan area penyerapan air yang membentuk Daerah Aliran Sungai (DAS) Pusur. Air yang diserap di tempat ini nantinya akan keluar ke permukaan berupa umbul atau sumber air yang umumnya terdapat di wilayah Kabupaten Klaten, serta menjadi aliri sungai Pusur yang menyuplai irigasi untuk lahan pertanian menuju Desa Delanggu.
Sebab tujuan dari LPTP adalah untuk mendukung penduduk desa dalam mengeksplorasi sumber daya setempat, para warga diharapkan untuk menentukan sendiri langkah-langkah yang akan ditempuh dalam kegiatan pelestarian ini.
Lantas kami bertanya pada diri sendiri, aktivitas apa lagi yang bisa mendukung pelestarian alam? Sudah kita tanami pohon-pohon baru. Namun demi memastikan bahwa bibit-bibit ini tumbuh subur, tercetuslah gagasan menanam bunga anggrek di atas pepohonan sebagai bentuk perlindungan bagi mereka," jelasnya. "Dengan cara ini, bukan hanya iklim dan ekosistem hutan dapat dipulihkan menjadi semula, namun pertumbuhan anggrek di tralk-tralk kayu pun bakal membantu dalam mencegah perambahan pemotongan pohon oleh manusia.
Pada saat itu, masalah utama yang timbul adalah cara menemukan anggrek untuk dikembangkan kembali, terlebih lagi di dalam Taman Nasional sendiri tanaman tersebut telah menjadi langka.
"Untuk mengatasi kekurangan tersebut, kami kemudian mendapatkan bibit dari masyarakat yang sebelumnya menanamnya di pekarangan mereka sendiri. Kami menggunakan bantuan dari program ini untuk membeli anggrek serta membudidayakannya," terangkan Joko, yang saat ini berperan sebagai kepala kelompok petani anggrek bernama 'Karya Muda' di Dusun Gumuk.
Keunikannya, kelompok petani ini juga menguasai teknik perbanyakan anggrek menggunakan metode kultur jaringan, yaitu dengan membudidayakan sel-sel, jaringan, atau bagian-bagian tanaman seperti tunas, daun, atau akar di lingkungan yang higienis dan dikendalikan. Agar dapat melakukan hal tersebut, kelompok pertanian Gumuk merancang 'laboratorium' dasarnya sendiri dari lantai dengan dinding terbuat dari plat plastik transparan. Laboratorium itu dilengkapi dengan rak-rak penyimpanan berisi botol-botol kaca tempat bibit anggrek disematkan.
Pilihan metode kultur jaringan didasari oleh kemampuannya menghasilkan banyak stek dalam periode waktu pendek. Tambahan pula, tumbuhan hasil kultur jaringan tersebut akan memiliki karakteristik genetik sama persis seperti tumbuhan aslinya. Teknik ini lebih difokuskan pada peningkatan populasi tumbuhan langka atau beresiko punah yang susah dikembangkan menggunakan cara tradisional.
Melalui metode ini, kelompok petani Karya Muda sukses menumbuhkan lebih dari 26 jenis anggrek asli, yang selanjutnya dipelihara dalam greenhouse dengan ukuran 4 x 6 meter persegi. Setelah mencapai ukuran yang cukup besar, tanaman-tanaman tersebut akan ditempatkan kembali pada tempat hidup alaminya di pepohonan-pepohonan sekitar Gunung Merapi.
Satu jenis anggrek yang sangat terkenal adalah anggrek Vanda tricolor Anggrek tersebut memiliki bentuk bunga mirip laba-laba, menampilkan tiga warna utama pada setiap kelopak: putih, titik-titik cokelat muda, serta ungu. Spesies anggrek yang asli tumbuh di dataran tinggi Gunung Merapi ini memancarkan aroma harum, terlebih lagi saat subuh; akan tetapi, baunya menjadi samar apabila dipindahkan ke area lebih rendah.
Anggrek Vanda tricolor Merapi ditemukan di sejumlah titik dalam area taman nasional, tetapi paling banyak di Bukit Plawangan, Turgo, serta Bukit Bibi — yang letaknya langsung di atas Desa Gumuk. Spesies anggrek ini cukup tahan terhadap hawa panas saat erupsi gunung api, dan kelopaknya dapat bertahan selama tiga minggu; pada setiap tunas bisa muncul puluhan buah bungan.
Adopsi Anggrek Merapi
Di luar menanami langsung di pepohonan di area sekitaran bukit, petani lokal pun menyediakan opsi adopsi anggrek. Melalui program ini, individu ataupun organisasi korporat serta lembaga dapat memilih untuk mengadopsi tanaman anggrek dengan tujuan nantinya akan dipasang pada berbagai pohon yang terdapat di kawasan hutan; baik itu di dalam batas wilayah Taman Nasional maupun di zona buffer di sekelilingnya.
"Anggrek yang akan ditanam nantinya akan ditandai dengan nama pengadopsi dan dipasangkan pada pohon-pohon dalam hutan. Karena bersifat epifit, tanaman ini tidak memberikan kerusakan kepada pohon induknya. Dengan meletakkan anggrek tersebut pada pohon besar, manusia cenderung enggan untuk menggundul pohon tersebut sebab secara praktis pohon itu telah menjadi tempat tinggal bagi anggrek yang dikembalikan ke alam bebas," jelas Joko.
"Jika program ini mendapat sambutan positif, penduduk akan termotivasi untuk menanam lebih banyak pohon guna menjadi habitat bagi anggrek, dan pada akhirnya kita melindungi area penyerap air ini lewat adanya pepohonan rimbun yang dapat mengendalikan aliran air serta mencegah erosi," jelasnya.
Joko menyatakan bahwa terdapat peraturan tegas di Taman Nasional Gunung Merapi, yaitu melarang pengunjung untuk menebang pohon atau membangun sesuatu di area tersebut. Akan tetapi, penduduk lokal masih diizinkan untuk mengumpulkan rerumputan dan kayu api yang telah jatuh (rencana).(1)
(1): Perhatian: Kata "rencek" tampak seperti kesalahan pengetikan; kemungkinannya adalah kata 'rencana' sebagai sumber kutipan atau referensi dari informasi ini. Saya melakukan asumsi berdasarkan konteks dan menyesuaikannya dengan itu.
Apabila maksud Anda lain, silakan jelaskan lebih lanjut agar saya dapat membantu secara efektif.
Area ini dapat dikelola sebagai zona penggunaan teratur, yaitu daerah yang membolehkan adanya destinasi pariwisata dengan kepentingan tertentu tanpa mengganggu ekosistem sekitar. Sebagai contoh, bisa dikembangkan menjadi lokasi observasi lutung Jawa, rute pendakian untuk para pencintai alam, serta jenis-jenis aktifitas serupa lainnya.
"Pada intinyanya, ini cocok bagi para pelancong yang mengagumi keaslian, bukannya mereka yang lebih suka objek wisata dengan unsur-unsur buatan manusia," katanya.
Pada saat berkunjung di bulan Februari yang lalu, kami sempat menambahkan beberapa tanaman anggrek ke koleksi kami. Vanda tricolor Yang selanjutnya dipasang pada pohon nangka raksasa di area cagar alam Taman Nasional. Tujuannya adalah agar adanya anggrek tersebut dapat menciptakan suasana harum disekitarnya, memelihara pohon induknya supaya tetap stabil sehingga membantu dalam perlindungan lahan yang bertugas sebagai sumber infiltrasi air, serta mengembalikan pesona Lereng Merapi menjadi lebih cantik dengan aneka jenis bunga dan pepohonan.
Gabung dalam percakapan