Irin Tetap di Rumah Sungai Bandung, Tolak Pindah, Ajukan Permintaan Kepada Dedi Mulyadi untuk Bangun Benteng Proteksi

RB NEWS - Ini adalah seorang penduduk yang menetap di sebuah hunian kecil di tepi Sungai Cikapundung, Bandung, Jawa Barat.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi merasa terkejut ketika melakukan inspeksi di sekitar Sungai Cikapundung dan menyaksikan ada penduduk yang memilih untuk tinggal sendiri dalam rumah kecil tepat di samping aliran sungai tersebut.

Dedi Mulyadi mengatakan bahwa ukuran rumah tersebut diperkirakan sekitar 1x2 meter dan memiliki pintu yang sangat rendah, hampir seperti sebuah lubang.

"Maka ketika Air Sungai Cikapundung meningkat, ia masuk ke dalam rumah (hingga) Bapak hanya bisa duduk di sudut," jelas Dedi saat bertanya kepada warga itu, sebagaimana terlihat dalam videonya yang diposting di Instagram.

Warganya adalah Irin Sahirin, penduduk dari Babakan Ciamis, Sumur Bandung.

Dedi Mulyadi juga bertanya tentang apa yang dikerjakan Irin saat dia tertidur setelah kembali dari perjalanan, dan tiba-tiba air mulai mengalir.

"Iya, aku pergi," ujar Irin.

Jadwal Penyelesaian Semua Piutang Pajak Kendaraan di Jabar, Dedi Mulyadi Bahas Cara Pembayarannya

Tolak Tawaran Pindah

Selanjutnya, Dedi Mulyadi juga mengusulkan agar Irin berpindah, tetapi Irin merasa kebingungan tentang harus berpindah ke mana.

"Mau pindah kemana," ucapnya.

Dedi menyatakan bahwa dia akan mencari sewa tempat tinggal untuk Irin. Minimal, mereka dapat menempati sementara saat musim hujan tiba.

Akan tetapi, Irin masih menolak penawaran dari Gubernur Jawa Barat itu.

Dia menyatakan telah merasa nyaman tinggal di rumah kecilnya itu.

"Iris merasa nyaman di tempat ini. Ini adalah rumahnya," katanya.

Irin juga mengharapkan adanya pertahan berupa benteng untuk mencegah air merembes ke dalam rumah ketika Sungai Cikapundung naik deras.

"Dibenteng saja," pintanya.

Irin berpendapat bahwa sebaiknya di benteng tersebut terdapat gerbang untuk memudahkan akses keluar dan masuk.

"Bukan tertutup sepenuhnya (total), mungkin saja harus ada gerbang," ujarnya Dedi lalu menanyakan kembali, apa yang terjadi jika air sungai naik melebihi batas?

Perlahan-lahan, Irin merespons sambil berharap agar tidak terlalu berlebihan.

"Dont use maybe easily. Life should have a good plan. What does Father want?," ujar Dedi.

Walaupun demikian, Irin masih teguh berpendirian untuk tinggal di rumahnya yang sekarang.

Dia masih hanya menginginkan agar dibangunkan sebuah benteng saja.

Irin teguh untuk tetap menetap di tempat itu. "Sudah jadi warga lokal, senang tinggal di sini. Hanya perlu meningkatkan pertahanan," katanya dengan harapan.

Dedi Mulyadi: Keberhasilan Tak Terukur Hanya dengan Uang

Dedi Mulyadi menyebut bahwa akan sangat susah memindahkan penduduk tersebut sebab mereka telah merasa senang meski harus menempati hunian yang sempit.

"Keberhasilan tak dapat diukur hanya lewat kekayaan materi. Pada akhirnya ia merasa perlu memperkuat pertahanannya," jelas Dedi melalui panggilan telepon, seperti dilaporkan Kompas.com.

Dedi menyebutkan bahwa kediaman yang kecil tersebut dihuni oleh seorang ayah dan putranya.

Istri Irin dilaporkan telah melarikan diri.

"Konon istrinyanya melarikan diri," ujar Dedi.

Dedi Mulyadi Bertemu Wakil Menteri PUPR Bahas Pengelolaan Banjir di Jawa Barat

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, bertemu dengan Wakil Menteri Pekerjaan Umum (PU), Diana Kusumastuti, di kantor Kemendik PU, Jakarta, pada hari Senin tanggal 17 Maret 2025.

Rapat itu menyinggung tentang pengelolaan banjir di seantero Jawa Barat, dimana pembahasan intinya merujuk kepada pengerjaan lebarnya saluran air yang meliputi daerah Kota/Kabupaten Bogor serta Kota/Kabupaten Bekasi.

Pada rapat tersebut, Gubernur Dedi mengajukan tentang dana yang dibutuhkan untuk penormalan sungai di Jawa Barat.

“Berapa anggaran untuk normalisasi sungai di Jawa Barat, Bu?” tanya Dedi kepada Wamen PU dalam video yang diunggah Dedi di media sosial, dilansir dari Kompas.com .

Merespons pertanyaan itu, Deputi Menteri PUPR Diana Kusumastuti menyatakan ada total 33 km sungai yang perlu diluaskan, dan hingga kini lebih dari 19,4 km belum terselesaikan.

Surat Edaran Gubernur Dedi Mulyadi Tentang Rencana Penanganan Banjir di Jawa Barat

"Biaya proyeknya sebesar Rp 3,6 triliun. Harga tersebut hanya untuk membangun tanggul pada tahun ini," jelas Diana.

Di samping itu, ada delapan waduk penahanan air yang perlu dibuat untuk mengatasi masalah banjir.

"Saat ini studi kelayakan untuk kolam retensi tengah berlangsung, dan diharapkan akan segera rampung. Mudah-mudahan pada tahun 2026 pembangunan kolam retensi dapat dimulai," jelasnya.

Diana juga mengatakan bahwa gedung Kementerian Pekerjaan Umum terletak di area hutan yang rumah bagi beragam tumbuhan dan fauna.

"Selain itu, kami menangani limbah agar area ini berubah menjadi daerah yang asri dan hijau. Semoga hal ini dapat dijadikan contoh oleh kementerian lain saat merencanakan wilayah," jelas Diana.

Merespons terhadap itu, Gubernur Dedi menggarisbawahi kebutuhan pemulihan ekosistem yang komprehensif.

"Pentingnya tidak hanya menanami pohon di area kantor departemen, tetapi lebih dari itu adalah menjaga hutan agar terlindungi dengan baik karena memiliki nilai yang sangat besar. Kita tak bisa mengeluarkan regulasi pengembangan yang bertujuan meraup untung finansial namun berdampak buruk pada ekosistem sekitar, seperti memperburuk kondisi aliran air sampai menciptakan risiko banjir," ungkap Dedi secara tegas.

Dedi menyampaikan harapannya agar Pemerintah Jawa Barat serta Departemen PU bisa terus bekerja sama untuk mencari solusi jangka panjang tentang penanganan banjir. Dengan begitu, warga bisa terlindungi dari musibah yang tiap tahun selalu kembali melanda.

Lain kali baca lebih banyak berita dari Tribun Jabar di GoogleNews.