Belajar Seni Jualan Es Selendang Mayang

Sang bapak lanjut usia ini sering kali nampak berada di sisi jalan dekat akhir gang pemukiman yang ada di Jalan Pahlawan Sabeki, Bojonggede, Kabupaten Bogor; sebuah tempat populer bernama Gang Noble. Ia tampak sebagaimana pedagang es keliling kebanyakan.

Akan tetapi, setelah memperhatikan dengan lebih dekat, ternyata es tersebut tidak biasa. Sang bapak menawarkan es selendang mayang, hidangan khas Betawi yang kini langka ditemukan.

"Iya, sudah sangat langka ditemukan lagi Pak, sepertinya hanya saya saja yang menjual barang ini di wilayah ini," kata Pak Oyok, panggilan akrab untuk bapak tersebut.

Es selendang mayang dibuat dari campuran tepung hunkwe dan tepung beras yang diproses mirip dengan puding atau kue lapis. Sausnya terdiri atas santan, daun pandan, serta garam, menciptakan kombinasi rasa manis dan asin yang menggoda.

Syal Mayang khas Pak Oyok juga dihiasi dengan butir-butir mutiara buatan dari sagu, bersamaan dengan bola-bola sagu yang kenyal dan sedikit lebih besar daripada cendol biasa.

Hidangan ini dapat dikelompokkan sebagai minuman atau juga termasuk dalam kategori bubur.

"Buburnya sih, cuma diisi dengan es," kata Pak Oyok.

Konon es selendang mayang telah ada sejak masa penjajahan Belanda dan terus dilestarikan secara turun-temurun oleh komunitas Betawi. Pakaian ini biasanya tampil dalam perayaan-perayaan tradisional seperti lebaran Betawi.

Meskipun demikian, eksistensi dari es selendang mayang sepertinya semakin sulit untuk ditemukan. Meski layak mendapat gelar sebagai warisan budaya berkat hidangan ini, es selendang mayang hampir tidak pernah dipinggirankan dan kurang diminati oleh generasi muda.

Saya tidak menemukan pedagang es seperti ini di area Jabodetabek kecuali Pak Oyok, yang setia menantikan pelanggan setianya tiap harinya. Saya merasa sangat beruntung karena rumahku dekat dengan lokasinya.

Iya, kata Pak Oyok, dia telah menjual es selendang mayang selama lebih dari 30 tahun dan selalu berjualan di lokasi yang sama sejak dulu.

"Sebelum jalanan Dinas ini dilapisi aspal, saya telah berjualan di tempat ini," katanya.

Menakjubkannya, Pak Oyok setiap harinya harus menempuh perjalanan kira-kira 4 kilometer dari rumahnya yang terletak di area Karadenan, Cibinong. Setiap hari ia mendorong gerobaknya bukan untuk berkeliling menjajakan dagangannya, tetapi untuk mencapai tempat penjualan yaitu di Gang Noble.

Apabila pada hari-hari normal, di luar bulan Ramadan, dia membuka usahanya dari pukul 09.00 pagi hingga dagangannya habis terjual. Sementara itu, selama bulan Ramadan kali ini, waktu penjualan dimulai dari pukul 16.00 sore.

Dia mengincar pelanggan yang sedang mencari menu buka puasa. Tidak ada salahnya jika es selendang mayang ini jadi pilihan minuman penutup yang segar.

"Hanya saja ketika hujan lebat seperti kemarin, wah, saya menjadi tidak berjualan," katanya.

Demikianlah, senantiasa terdapat kegembiraan dan kesedihan dalam berjualan, termasuk hambatan-hambatan yang dapat menghentikan penjualannya, seperti halnya akibat dari hujan lebat. Oleh karenanya pada sore hari tersebut setelah cuacanya menjadi sangat cerah, pun wajah Pak Oyok turut berseri-seri.

Pembeli berkelanjutan terus menerus datang untuk membeli es selendang mayang yang dijualnya dengan harga sangat bersahabat, yaitu enam ribu rupiah tiap bungkusnya. Ukuran satu bungkus ini sama besar dengan semangkok biasa, atau seperti sebuah mangkuk bakso.

Melihat kesungguhannya dalam berdagang, ditambah dengan keyakinannya yang tak terkalahkan dalam menjual es selendang mayang selama lebih dari tiga dekade, seharusnya Pak Oyok menerima pujian dan penghargaan yang luar biasa.

Tidak hanya menawarkan hidangan segar dan lezat untuk dinikmati oleh semua orang, Pak Oyok juga telah melestarikan salah satu warisan makanan khas Betawi yang hampir punah.

Tahun baru tiba, dan jelas bahwa zamannya dan tren-trennya sudah berbeda dalam 30 tahun terakhir. Berbagai jenis es dan minuman muncul lalu lenyap. Namun, Pak Oyok tidak pernah putus asa menjual es selendang mayang menggunakan gerobak kayohnya.